Krisis Global Akibat Isolasi Pandemi

Kini, dunia sedang dilanda krisis kesehatan yang sangat berdampak pada stabilitas hampir di semua sektor kehidupan. Tak hanya sektor perindustrian, sektor ekonomi dan pendidikan juga mengalami penurunan drastis semenjak pandemi.

Tak bisa dipungkiri, corona virus membuat dunia seakan terisolasi. Bagaimana tidak? Semua aktivitas serba dibatasi, sistem ekonomi dunia lumpuh total, bahkan dunia pendidikan pun mulai luluh lantak. Mungkin bagi sebagian orang situasi seperti saat ini akan dijadikan hal yang sangat menguntungkan, karena sejatinya para siswa lebih senang bila mengikuti pembelajaran online daripada harus mengikuti pembelajaran tatap muka.

Bukan hanya itu, dampak positif lainnya tampak pada kualitas udara yang membaik karena semua kegiatan industri ditutup total sehingga tidak ada lagi asap yang membumbung di udara. Hal positif lainnya tampak pada kanal di Venesia, Italia yang mulai jernih sejak pemberlakuan lockdown oleh pemerintah setempat. Akan tetapi, itu menjadi mimpi buruk bagi karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat di PHK dari perusahaannya, orang-orang justru beralih profesi demi menghidupi keluarganya.

Tak hanya itu, banyak perusahaan yang harus gulung tikar akibat dari pemasukan yang minus, mereka sulit mencari suntikan dana karena kegiatan ekonomi dunia yang sungguh lumpuh total. Semua proyek diberhentikan seketika, khawatir proyek yang dikerjakannya tidak tepat waktu karena kekurangan pekerja.

Kemudian yang menjadi sorotan adalah ditutupnya akses perhubungan antar wilayah, akses tol juga banyak diblok sehingga memungkinkan kita untuk tidak bisa kemana-mana. Ditambah lagi dengan industri penerbangan yang juga mulai macet, menambah kemungkinan bahwa kita tidak bisa transit terlalu jauh. Tempat rekreasi dan liburan juga dijaga ketat bahkan nyaris ditutup karena dapat melebihi seratus pengunjung setiap harinya.

Tak cukup sampai di situ, dunia pendidikan juga mengalami kemunduran akibat pemberlakuan PSBB dan PPKM. Jumlah setiap kelasnya dibatasi dengan sistem ganjil genap. Kemudian jam masuk sekolah yang dibagi setiap sesinya, mengusahakan untuk tidak terjadi penumpukan di satu titik. Menurut sebagian orang, langkah online dinilai kurang efektif karena materi yang disampaikan tidak bisa diserap secara maksimal. Pembelajaran online juga dianggap sebagai pembodohan massal karena kurangnya pengawasan yang ketat terlebih saat ujian.

Melihat kondisi yang kian memprihatinkan seperti ini, pemerintah seyogyanya mengatasi persoalan ini dengan lebih bijak dan tangan terbuka. Seperti membuka sekolah dengan optimal dan menutup akses perbelanjaan serta tempat hiburan lainnya. Karena langkah online hanya akan membuat siswa menjadi malas dan hanya sebatas mengisi presensi kehadiran saja. Apakah model seperti ini yang nantinya akan memimpin negara nantinya?

Menurut saya, langkah online cukup digunakan untuk pendalaman materi saja, selebihnya tatap muka.

Komentar

Postingan Populer